Senin, 05 Desember 2016

Jendela Manca

Jarum jam dinding di atas jendela kamar itu menunjukkan waktu setengah tiga. Bergegas dia melepas kancing seragam merah-putih dan menggantinya dengan kaos merah-hitam berlambang sebuah klub sepakbola Italia. Di punggungnya bertuliskan nama akrab dari idolanya semasa itu, Ricardo Izecson dos Santos Leite.

“Eyang, aku keluar lagi ya, mau main.” Ucapnya keras sambil berjalan ke teras untuk meraih sepedanya.
Arep ning ngendi, le?” Tanya sang nenek soal tempat tujuan cucu ke empatnya tersebut dalam Bahasa Jawa.
“Ke Manca, Yang.” Jawab anak lelaki tersebut dalam Bahasa Indonesia.

Dikayuhnya sepeda tua itu dan sampailah dia di Manca. Tidak lama, hanya sekitar 3 menit dari tempat tinggalnya. Oh ya, Manca adalah sebuah perpustakaan kecil yang baru dibuka di kelurahan tempatnya tinggal. Tempatnya tidak luas. Tidak juga ramai. Sesekali tampak riuh oleh sekumpulan anak sekolah dasar yang sengaja mampir sebelum bermain sepakbola di lapangan.

“Hai, Galang. Kok sendiri. Mana teman-temanmu?” Sapa ramah seorang wanita muda yang duduk lesehan dengan meja kecil di depannya. Wanita itu adalah penjaga Manca.
“Masih pada di rumah kayaknya, mbak.” Sahutnya singkat sambil berjalan ke arah pojok ruangan. Tempat favoritnya sejauh ini setiap kali datang. Tepat di samping jendela besar dengan kaca bening yang menghadap ke halaman kelurahan.

Sembari duduk dan melihat sekitar ruangan, matanya tertuju pada sederetan buku berwarna seragam tidak jauh dari tempatnya duduk.

“Buku apa ini, mbak? Kok ada banyak.”
“Itu ensiklopedia. Buku pengetahuan. Baca aja.”

Diambillah buku bersampul keras dan berisi tebal itu, yang paling kiri, lalu kembali duduk di samping jendela. Tertulis abjad A-C. Yang kemudian aku paham bila buku ini menyediakan rangkuman berbagai pengetahuan dunia yang disusun alfabetis.

Dia baca buku itu di samping jendela.
Jendela yang kemudian secara virtual menjadi tempatnya mengetahui hal-hal yang benar-benar asing.
Jendela yang tak hanya semakin terang akibat matahari yang turun di ufuk barat, tapi juga akibat hal-hal mengagumkan yang tercetak di dalam buku yang sedang dia baca itu.
Jendela yang menjadi tempatnya mengawali mimpi untuk menyaksikan langsung apa yang sedang mengisi pikirannya waktu itu.
Jendela yang secara spesifik membuka perkenalannya dengan salah satu keajaiban dunia yang kurang populer masa itu, Angkor Wat.

“LAAANG, AYO MANGKAT!” (Lang, ayo berangkat!)

Seketika buyarlah imajinasinya yang indah itu. Bola sudah menunggu untuk digiring. Saatnya merajut kisah masa kecil agar tak kalah indah.

Bersambung.

Rabu, 17 Agustus 2016

Tentang Kemerdekaan Jiwa

Suara Danilla ini bisa saja sempurna

Bila dua cangkir kopi hadir

Bertuan aku dan dirimu

Beradu lagi dan merangkai imajinasi


Terlebih karena malam gelapku

Yang sedari pagi menyore

Meyakinkan pada jiwa bahwa

Bisa gila bila tak berharap


Namun

Asal kamu tahu

Memperjuangkan yang tak pantas

Adalah sebuah kebodohan


Seperti halnya lagu Hari Merdeka

Hanya akan tidak bermakna

Bila kulantunkan dengan semangat

Yang tak semenggebu milikmu


*) Ditulis dengan sadar ketika suara merdu seorang wanita muncul di layar persegi panjang yang selepas lagu Sore berakhir tepat saat jam-jam peralihan menuju Hari Ulang Tahun Republik Indonesia.

Jumat, 24 Juni 2016

Yang Ternyata Bermanfaat #2


Waktu menunjukkan pukul 21.00, di sebuah pinggiran kota di Semenanjung Malaya. Sekelompok pemuda dan pemudi sibuk dengan diri masing-masing. Salah satu dari mereka memainkan sebuah video online mencoba memecahkan kesunyian.
“Bersepeda, kumenanjaki bukit itu sekuat tenaga kukayuh pedalnya,”
Sebuah kalimat bernada keluar dari mulut seorang pemuda yang sedang bersandar di sebuah bantal santai.

Hampir bersamaan, secara antusias, seorang pemudi yang berada di sampingnya bersuara dengan sahutannya. 
“Kaze ni fukuranderu shatsu mo, ima wa modokashii.”
Hari itu adalah hari yang kesekian kali mereka berada jauh dari tanah kelahirannya. Ruang tengah dengan balkon yang menjorok ke sebuah danau buatan menjadi tempat favorit mereka berdua, dan juga yang lain, menghabiskan malam di tengah kegiatan sehari-hari yang stagnan. Malam tipikal mereka adalah duduk melingkar, menikmati santapan yang mereka masak bersama dan, tentunya, saling berbagi cerita sembari bersenda gurau. Di sinilah semuanya berawal. Jika mereka masih memiliki energi lebih, mereka akan dengan ceria melakukan aktivitas hingga dini hari menyambut. Namun, malam itu tidak.
“Yatto kizuita hontou no kimochi, shoujiki ni yukun da,”
Dengan mulai melihat teks di video online dari selulernya, pemuda tersebut mencoba tetap melanjutkan sahutan dengan gadis di sampingnya itu.
“Ingin jalani sejujurnya, hanya di jalan ini kuakan terus berlari....”
Meski sedikit tergelitik, ia tetap melanjutkan hal tersebut.
“Kamu berharga lebih dari siapa pun, walau kau tolak tak akan ku sesali,” ucapnya dengan lantang. 
“Kamu berharga lebih dari siapa pun, tadinya ku ingin ungkapkan rasa ini,”
Dengan gaya khas cerianya, sang pemudi terus melanjutkan.
 “Suki naraba suki da to iou,” 
“Mune no uchi sarakedasou yoo.”
Begitulah mereka merayakan satu malam sepi yang dibalut rasa bosan yang wajar dan rindu akan tanah air masing-masing.

Lelagu dari dua grup berafiliasi yang begitu kondang di masing-masing negara menyelamatkan suasana hari gelap itu. 

Sebuah hal yang cukup menegaskan bahwa guilty pleasure pemuda tersebut selama ini adalah suatu hal yang bermanfaat.
Aitakatta, yes!

Senin, 30 Mei 2016

Yang Ternyata Bermanfaat #1

Terdengar riuh rendah suara orang-orang berdiskusi selepas briefing penentuan kelompok. Seseorang berbicara dengan suara lantang, sementara yang lain bercanda, tidak sedikit yang diam, dan beberapa ada yang tidak mengerti. Ya, mereka adalah sekumpulan orang peserta kemah 4 hari 3 malam di antah berantah Negeri Jiran. Orang-orang itu dipaksa menyatu untuk saling bekerjasama. Tak saling mengenal. Tak saling paham apa yang diucapkan satu sama lain. Rasa sulit tampak di beberapa dari mereka. Namun, ada seorang yang mencoba-coba memahami situasi.

Galang, begitu aku memperkenalkan diri pada beberapa lelaki dan perempuan di sekitarku.

“Wah, nama awak seperti pelakon kat televisyen!”, ujar salah satu dari mereka.

Kumencoba menerka apa yang teman baruku itu maksud. Nggak ngerti.

“Nama kamu siapa?”, tanyaku kepada orang yang menimpaliku tadi.

“Nama gue Dre. Nama lo seperti pelakon kat televisyen itu ya.”

Hah? Aku mengernyitkan dahi mencoba memahami apa yang dikatakan orang di depanku itu. Pelakon kat televisyen? Kenapa dia mengucapkan “gue” layaknya orang Jakarta? Pertanyaan muncul di kepalaku mengenai pemudi Malaysia yang baru kukenal itu.

“Pelakon apa? Boleh cakap gue-lo?”, tanyaku sedikit dalam gaya Melayu yang kaku.

Dari perbincangan perkenalan tersebut kemudian aku paham bahwa yang Dre maksud adalah nama seorang tokoh dalam salah satu sinetron Indonesia yang tayang dan terkenal di Malaysia. Ya, setelah aku riset, Galang adalah nama tokoh yang diperankan oleh Randy Pangalila dalam sinetron berjudul Cinta Kirana yang tayang di Indosiar medio 2008. Dari sinetron pulalah Dre mengerti dan mampu berbicara dengan kata-kata slang Indonesia termasuk bahasa ibukota yang khas dengan gue-lo-nya itu.

Ternyata, sinetron Indonesia ditayangkan di Malaysia dan cukup banyak peminatnya di sini. Mereka sampai-sampai hafal nama-nama sinetron beserta artis-artis pemeran di dalamnya. Yang kesemuanya, hampir sama sekali, aku tak tahu.

“Saya tak pernah menonton televisi.”, jawabku atas pertanyaan mereka yang heran mengapa saya bisa tidak tahu apa yang baru saja mereka (Dre dan teman-temannya) ceritakan.

“Orang Indonesia seumuran saya tidak suka menonton televisi,” tambahku menggeneralisir realita di sekitarku di Indonesia.

Obrolan itu terus berlanjut dengan pembahasan beberapa artis sinetron yang aku dan mereka sama-sama tahu. Diselingi dengan canda mereka yang menirukan gaya artis favorit mereka dan berbicara ala Jakarta yang cukup mengocok perutku.

Dari obrolan itu, akhirnya aku paham sekarang mengapa orang Malaysia, setidaknya yang selama ini aku temui, mudah memahami apa yang aku maksud. Namun, tidak untuk sebaliknya. Sulit bagiku untuk mengerti dengan cepat apa yang mereka maksud.

Dari obrolan itu, pada akhirnya aku paham sekarang bahwa sinema elektronik Indonesia yang selama ini tidak pernah aku ikuti dapat menjadi media mengakrabkan diri seorang pemuda Indonesia dengan pemuda-pemudi Malaysia.

Dari obrolan itu, pada akhirnya aku paham sekarang bahwa sinetron adalah suatu hal yang ternyata bermanfaat.

Selasa, 10 Desember 2013

Yogyakarta Berhati Gundah

Terlahir, tumbuh, dan besar di Kota Yogyakarta merupakan sebuah anugerah tersendiri. Nilai-nilai luhur, tata krama, dan kesederhanaan mengakar di dalam kehidupan sehari-hari penduduknya. Di samping itu, suasana kota yang konon memiliki tata kota terbaik dunia ini cukup aman nan bersahabat. Besar di lingkungan yang seperti inilah yang membuatku bersyukur dan merasakannya sebagai anugerah dari Sang Pemberi Hidup.

Tidak banyak ruang publik memang, apalagi jika menghitung ruang terbuka hijau bagi masyarakat di dalam kota. Namun, di balik ketiadaan tersebut, Yogyakarta memiliki sisi lain yang tidak kalah dengan kota-kota lainnya.

Bersih, sehat, asri, dan nyaman, kata-kata yang termaksud dan menyusun makna slogan kota, Yogyakarta Berhati Nyaman, memang benar adanya. Empat kata yang pas untuk mendeskripsikan keadaan kota yang memliki bermacam sebutan ini. Tidak heran apabila banyak orang ingin kembali, menetap, ataupun memimpikan Yogyakarta sebagai tempat tinggal masa tuanya kelak bisa jadi untuk memiliki hati yang nyaman pula.

Setidaknya itulah yang aku lihat, rasakan, dan lalui selama hidup di Yogyakarta hampir dua dekade.

Magnet Yogyakarta adalah kenyamanan. Satu hal yang akhir-akhir ini mengalami penurunan pada kualitasnya. Bakal berdirinya mal-mal baru dan menjamurnya hotel yang ditanggapi pemerintah kota dengan dalih peningkatan perekonomian daerah menjadi isu yang santer dikhawatirkan masyarakat menjadi penyebab degradasi tersebut.

Pemerintah kota sangat diharapkan bisa mengakali daya tarik yang telah dimiliki untuk tetap mempertahankan wajah asli Yogyakarta selama ini, yaitu berbudaya dan humanis. Bukankah menyedihkan apabila kota ini tidak lagi mampu mempertahankan hal itu? Modernitas tidak bisa ditolak, namun kehilangan ciri khas membuat Yogyakarta tidak mempunyai jati diri. Kota yang juga sarat budaya ini bisa-bisa kehilangan ruhnya.

Tidak perlu menjelaskan panjang lebar lagi, cukup kita lihat apa yang dilakukan para pemimpin kota-kota besar Indonesia lainnya. Ketahui lebih tentang aktivitas Ridwan Kamil di Bandung, Tri Rismaharini di Surabaya, dan tentunya Joko Widodo di Jakarta.

Tetaplah menjadi anugerah, jangan biarkan identitas musnah, kalah apalagi latah di tengah modernitas yang mewabah, juga lengah dalam menjaga amanah. Mereka telah berbenah, sementara Yogyakarta makin parah. Masih tiga tahun lagi, masih berhati nyaman kah? Entahlah. Realita kini mengatakan bahwa hati masyarakat sedang gundah.